Wednesday, January 26, 2011

Belajar Dari Cara Hewan Menyembuhkan Diri

Kita semua menyadari bahwa kerajaan hewan memiliki kwalitas kesehatan yang lebih baik daripada kerajaan manusia. Walaupun manusia diberi akal, kemampuan untuk berfikir dan berkreasi yang jauh lebih sempurna daripada hewan, tetapi mengapa ketika berbicara tentang kesehatan dan merawat tubuh justru hewan punya insting kepekaan yang lebih bijak daripada manusia umumnya?

Dr. Adolf Just, seorang dokter berkebangsaan jerman, yang telah banyak mengarang buku mengatakan, bahwa perbedaan yang paling mendasar dari kehidupan manusia dan kehidupan hewan adalah hewan hidup bersahabat dengan alam dan mengikuti aturan hukum alam yang harmonis, sedangkan manusia hidup merusak dan melawan hukum alam. Inilah awal dari kebodohan manusia.
Mari sekarang kita coba menelusuri kehidupan kucing di sekitar kita dan bagaimana kucing memperlakukan tubuhnya ketika sakit?
Saya pernah mengamati kucing liar yang sakit parah di rumah saya. Kucing itu tidak sengaja dipelihara, melainkan datang sendiri dan hidup di sekitar rumah. Pada waktu itu si kucing yang awalnya lincah, tiba-tiba jadi pendiam dan berbaring tidur selama berhari hari. Kalaupun ia bergerak sangatlah sedikit hanya sesekali menghirup udara segar dan untuk menggerak gerakan badannya agar tidak kaku. Pada waktu itu saya melihat berkali kali kucing itu muntah dengan bau yang cukup menyengat. Saya pun mencoba memberinya susu yang dituangkan di atas mangkuk, tapi sedikitpun susu itu tak disentuhnya sampai akhirnya saya buang. Sayapun mencoba memberinya air dan dia mencicipi sedikit sedikit.
Setelah beberapa hari, saya melihat kucing itu tidak makan dan hanya berbaring lemas dan kadang menjilati bagian-bagian tubuh tertentu dengan air ludahnya sambil sesekali jalan ke luar. Saya melihat badannya semakin kurus tapi sorot matanya tetap tajam dan menunjukan tanda-tanda optimis untuk bisa cepat sembuh kembali. Setelah kucing itu tidak muntah lagi, dia mulai mencari-cari makanan. Saya coba memberinya sepotong ikan, tapi tidak juga dimakannya. Ikan yang saya berikan hanya dijilat dan diciumnya lalu ditinggalkannya. Selanjutnya saya coba memberinya susu lagi, dia mulai menjilatinya sedikit-sedikit secara perlahan sambil kadang-kadang menoleh ke saya dan terkesan seperti bertanya kepada tubuhnya tentang setiap jilatan yang diminumnya, apakah tubuhnya sudah merasa siap dan menerima dengan baik makan yang dimakannya. Sekitar 25% susu yang dijilatinyapun masuk ke mulutnya, setelah itu dia pergi dan kembali berbaring. Keesokan harinya saya beri lagi ia susu, lalu dijilatinya, lebih cepat, hampir 75% nya habis dijilati. Keesokan harinya saya beri dia ikan, lalu ia mulai memakannya secara perlahan dan mengunyahnya cukup lama. Separuh ikan itu habis dimakan. Hari berikutnya ia kembali lincah, menunjukan kalau kucing itu telah benar-benar sehat seperti sedia kala.
Dari kisah nyata tersebut, kita bisa ambil banyak sekali pelajaran yang sudah banyak dilupakan oleh para dokter atau para pengobat tradisional bahwa banyak obat-obatan yang diberikan ke tubuh dengan dasar asal cepat dan instan namun tidak peduli akan resiko dan efek samping pada tubuh secara jangka panjang.
Kita takut dan sangat khawatir ketika selera makan dan berat badan anak kita menurun ketika sakit, padahal itu semua merupakan reaksi positif tubuh, para dokter sibuk memberi obat anti mual dan berbagai vitamin nafsu makan agar si pasien bisa tetap makan banyak. (muntah merupakan proses mengeluarkan toksik dari tubuh secara alami sedangkan bila dalam keadaan sakit mengurangi makan berarti memberi kesempatan kepada mekanisme tubuh untuk memperbaiki diri, sedang bila terus makan banyak berarti mekanisme tubuh akan sibuk mencerna makanan). Inilah kebodohan kita akan bahasa tubuh yang membuat kita lupa bahwa gejala-gejala itu merupakan bagian dari reaksi positif tubuh dalam memberikan informasi ketika tubuh sakit.

Sumber : Dr Husen A. Bajri, M.D.,Ph.D. dalam buku "Tubuh Anda Adalah Dokter Yang Terbaik.

0 comments:

Post a Comment